Tampilkan postingan dengan label TM PT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TM PT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Mei 2019

Langkah-langkah Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)


Langkah-langkah Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)

Dalam melaksanakan metode ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Pertama sekali seorang siswa memperhatikan seorang siswa yang telah mencapai tingkat lanjut dalam melaksanakan semua tugas di bawah bimbingan pelatih
2) Setelah mengenal tugas tersebut, siswa dilatih dalam keterampilan melakukannya
3) Setelah lulus tes, ia menjadi pelatih untuk siswa berikutnya

Metode ini dapat dilaksanakan bila :
1) Semua tahap yang membutuhkan latihan satu persatu
2) Latihan kerja, latihan, formal, dan magang.

Sumber:
Yamin, Martinis. (2007). Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press.

Tujuan Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)


Tujuan Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)

Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di sekolah,  maka:
1)  Beberapa siswa yang pandai disuruh mempelajari suatu topik
2)  Guru memberi penjelasan umum tentang topik yang akan dibahasnya
3) Kelas dibagi dalam kelompok dan siswa yang pandai disebar ke setiap kelompok untuk memberikan bantuannya.
4) Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus
5) Jika ada masalah yang tidak terpecahkan, siswa yang pandai meminta bantuan kepada guru
6) Guru mengadakan evaluasi

Jika bantuan diberikan kepada teman sekelasnya di luar kelas, maka :
1) guru menunjukkan siswa yang pandai untuk memimpin kelompok belajar di luar kelas
2) tiap siswa disuruh bergabung dengan siswa yang pandai itu, seusai dengan minat, jenis kelamin, jarak tempat tinggal, dan pemerataan jumlah anggota kelompok
3) guru memberi tugas yang harus dikerjakan para siswa di rumah 
4) pada waktu yang telah ditentukan hasil kerja kelompok dibahas di kelas
5) kelompok yang berhasil baik diberi penghargaan
6) sewaktu-waktu guru berkunjung ke tempat seusai berdiskusi
7) tempat diskusidapat berpindah-pindah (bergilir)

Sumber:
Semiawan, Conny. (2000). Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT. Gramedia.

Pengertian Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)


Pengertian Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya)

Peer Tutoring (Tutor Sebaya) adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama (Djalil, 2003). Peer Tutoring (Tutor Sebaya) merupakan salah satu dari strategi pembelajaran yang berbasis active learning. Beberapa ahli percaya bahwa satu pelajaran benar-benar dikuasai hanya apabila peserta didik mampu mengajarkan pada peserta didik lainnya. Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan dan mendorong pada peserta didik mempelajari sesuatu dengan baik, dan pada waktu yang sama ia menjadi narasumber bagi yang lain. Pembelajaran peer teaching merupakan cara yang efektif untuk menghasilkan kemampuan mengajar teman sebaya (Silberman, 2006). Dipandang dari tingkat partisipasi aktif siswa, keuntungan belajar secara berkelompok dengan tutor sebaya mempunyai tingkat partisipasi aktif siswa lebih tinggi (Harsanto, 2009).

Sumber:
Djalil, Aria. (2003). Pembelajaran Kelas Rangkap. Universitas Terbuka.
Harsanto, Ratno. (2009). Pengelolaan Kelas Yang Dinamis. Jakarta: Adicita.
Silberman, Melvin L. (2006). Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa.

Selasa, 14 Mei 2019

2. REVIEW JURNAL PT


REVIEW JURNAL
Judul
Penggunaan Metode  Peer Tutoring dengan  Kassitu untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Fisika
Jurnal
JRKPF UAD
Vol, No & Hal
Vol.2 No.2
ISSN
-
Tahun
Oktober 2015
Penulis
Sujatmiani
Reviewer
Nurvadila
Tanggal
24 Maret 2019
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggunakan metode peer tutoriing dengan Kassitu.
Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII B SMP Negeri 5 Kepil Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research).  PTK meliputi  empat tahapan utama  yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat tahap tersebut tergabung dalam suatu siklus, dan siklus tersebut dapat diulangi lagi ketika hasil dalam siklus sebelumnya dianggap belum berhasil [21][22]  Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing- masing siklus sebanyak 2x pertemuan menggunakan metode peer tutoring dengan kassitu. 
Hasil Penelitian
  Motivasi Belajar
Besar prosentase motivasi belajar siswa dari pra siklus yaitu 64,42%, siklus 1 yaitu 69,81% dan siklus 2 yaitu 72,01%.
Kesimpulan
Metode pembelajaran Peer Tutoring dengan Kassitu dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA di kelas VIIIB SMP N 5 Kepil.

Selasa, 19 Maret 2019

1. REVIEW JURNAL PT


REVIEW JURNAL
Judul
Pengaruh Metode Pembelajaran Tutor Sebaya (Peer Teaching) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Vektor Kelas X MIPA MAN 1 Cirebon
Jurnal
Jurnal Pendidikan Fisika dan Sains
Vol, No & Hal
Vol 1 No 1 pp. 33-39
ISSN
-
Tahun
2018
Penulis
Muchammad Irfan Kusumah, Sutisna, Damar Septian 
Reviewer
Nurvadila
Tanggal
19 Maret 2019
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran tutor sebaya (peer teaching) dalam meningkatkan hasil belajar (kognitif) dan sikap siswa pada mata pelajaran fisika kelas X MIPA MAN 1 Cirebon tahun ajaran 2016/2017 pada pokok bahasan vector.
Subjek Penelitian
Keseluruhan kelas X MIPA MAN 1 Cirebon tahun ajaran 2016/2017 semester 1 yang berjumlah 121 siswa, terdiri dari terdiri 42 siswa laki-laki dan 79 siswa perempuan yang terbagi menjadi 4 kelas.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian posttest only control design.
Hasil Penelitian
Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas X MIPA 3 dengan jumlah 30 siswa sedangkan untuk kelas kontrol adalah kelas X MIPA 2 dengan jumlah 31 siswa. Hasil validasi didapatkan soal valid sebanyak 23 soal sedangkan soal yang tidak valid sebanyak 7 soal. Hasil reliabilitas soal didapatkan nilai sebesar 0,87 menurut kriteria, penilaian berarti sangat tinggi. Hasil daya pembeda didapatkan 17 soal berkriteria baik, 9 soal berkriteria cukup, dan 4 soal berkriteria jelek. Hasil tingkat kesukaran didapatkan 29 soal berkriteria sedang dan 1 soal berkriteria sukar. Setelah beberapa soal yang diperbaiki dan berdiskusi dengan dosen pembimbing maka peneliti menggunakan soal untuk posttest sebanyak 20 soal.  Hasil posttest dari kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada tabel 1.
Proses pembelajaran pada kelas kontrol menggunakan metode ceramah (konvensional), dimana peneliti hanya sekedar menjelaskan materi di depan kelas sedangkan siswa hanya memperhatikan. Proses pembelajaran pada kelas kontrol berlangsung selama dua pertemuan dan setelah itu dilakukan uji posttest untuk mengetahui hasil belajar (kognitif siswa). Pada kelas kontrol diperoleh nilai posttest rata-rata sebesar 6,4 sedangkan untuk nilai tertinggi dan terendah masing-masing adalah 8,0 dan 3,5. Berdasarkan hasil posttest menggambarkan hasil belajar siswa pada kelas kontrol antara siswa yang mendapat nilai terendah dan tertinggi terdapat perbedaan yang cukup jauh. Perbedaan ini dimungkinkan karena fokus siswa satu dengan yang lain berbeda, dimana saat proses pembelajaran menggunakan ceramah (konvensional) terdapat siswa yang fokus terhadap proses pembelajaran akan tetapi banyak juga siswa yang masih sibuk dengan urusannya sendiri seperti mengobrol, bercanda, dan sebagainya. Ini juga terlihat dari hasil penilaian sikap pada kelas kontrol baik pada pertemuan pertama dan  pertemuan kedua termasuk pada kategori cukup yang berarti fokus siswa terhadap pembelajaran masih kurang.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat di simpulkan bahwa: 1) ada pengaruh positif metode pembelajaran tutor sebaya yang signifikan terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas X MIPA MAN 3 Cirebon sebesar 16,8 %; 2) sikap siswa yang di ajar menggunakan metode tutor sebaya yang meliputi aspek disiplin, jujur, tanggung jawab, dan kerja sama menjadi lebih meningkat. Hal ini dapat dilihat pada berdasarkan lembar observasi afektif (sikap siswa) pada kelas eksperimen diperoleh skor rata-rata pertemuan pertama sebesar 2,5 dan pertemuan kedua sebesar 2,7 menurut pengkategorian skor termasuk dalam kategori baik.